TANYA TUNTAS
TEKNIK WAWANCARA UNTUK TV, ONLINE, DAN CETAK
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Di laptop: ←→ pindah slide, M menu, / cari, F layar penuh. Di ponsel atau tablet: pakai tombol bawah atau geser layar. Hampir semua kotak dan tombol bisa diklik.
120 Menit, Tujuh Bagian
Pelatihan ini untuk wartawan yang sudah terbiasa turun lapangan, jadi isinya kasus, simulasi, dan latihan. Ketuk bagian mana pun untuk melompat ke sana.
Semua kasus dalam modul ini fiktif. Silakan bantah, tambahkan, atau ganti dengan pengalaman kalian sendiri.
DASAR WAWANCARA
Wawancara bukan ngobrol dan bukan interogasi. Lalu apa?
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Wawancara: Percakapan dengan Tujuan
Wawancara jurnalistik adalah tanya jawab terarah untuk memperoleh informasi bagi publik. Beda dengan ngobrol, ia punya tujuan. Beda dengan interogasi, ia tidak memaksa dan narasumber bebas menjawab.
Data, kronologi, angka, dan konfirmasi yang tidak bisa kamu dapat dari dokumen.
Kutipan dan SOT yang menunjukkan sikap, penjelasan, atau tanggung jawab narasumber.
Pengalaman manusia yang membuat berita punya wajah: apa yang dilihat, dirasa, dan dialami.
Tiap wawancara sebaiknya pulang membawa ketiganya, atau paling tidak kamu tahu mana yang sedang kamu kejar.
Enam Bentuk Wawancara
Bentuk wawancara menentukan cara bertanya. Ketuk tab untuk melihat ciri dan risikonya.
Cegat (doorstop)
Wawancara singkat tanpa janji, di lorong atau pintu keluar, sering bersama banyak wartawan.
Cepat, satu sampai tiga pertanyaan, narasumber berjalan, mic berebut.
Jawaban normatif, narasumber pergi, dan kamu terpancing berdesakan.
Tip: pertanyaan terbaik ditanyakan paling awal, spesifik, dan tunggal.
Wawancara tatap muka terjadwal
Ada janji, tempat, dan waktu. Kamu bisa menyiapkan riset dan mengatur posisi.
Waktu terbatas, tetapi cukup untuk menggali. Bisa merekam gambar atau suara dengan tenang.
Waktu habis sebelum masuk ke inti karena terlalu lama berbasa-basi.
Wawancara telepon atau daring
Tanpa tatap muka, lewat telepon, pesan suara, atau panggilan video.
Cepat dan fleksibel, tetapi tanpa bahasa tubuh. Minta izin merekam dan konfirmasi ejaan nama serta jabatan.
Kualitas audio buruk, salah dengar, dan sulit membaca keraguan narasumber.
Wawancara khusus atau mendalam
Beberapa sesi atau satu sesi panjang untuk profil, isu besar, atau investigasi.
Riset sangat dalam, alur pertanyaan disusun, dan ada ruang menggali kisah.
Terbawa cerita, kehilangan fokus, atau terlalu akrab sehingga lupa kritis.
Vox pop
Pendapat warga biasa, ditanyakan dengan pertanyaan yang sama kepada banyak orang.
Pertanyaan pendek dan sama untuk semua. Catat nama, usia atau pekerjaan, dan lokasi.
Tidak mewakili data. Jangan sebut "warga menolak" hanya dari lima orang.
Live dialog
Tanya jawab langsung di siaran, di studio atau lokasi.
Tidak bisa disunting. Siapkan tiga pertanyaan dan siap dipotong kapan saja.
Narasumber bertele-tele, waktu habis, dan salah kutip tidak bisa dihapus.
Siapa yang Kamu Wawancarai?
Pendekatanmu berbeda tergantung narasumbernya.
Pelaku, saksi, atau pihak yang mengalami langsung.
Paling kuat untuk fakta. Tanyakan apa yang ia lihat, dengar, dan lakukan sendiri.
Pakar atau akademisi di bidangnya.
Untuk menjelaskan sebab, konteks, dan dampak. Minta bahasa awam dan satu kalimat inti.
Mewakili lembaga atau pemerintah.
Untuk sikap resmi dan tanggung jawab. Waspadai jawaban normatif.
Pihak yang terdampak langsung.
Untuk kisah manusia. Dahulukan empati, izin, dan perlindungan identitas bila perlu.
Pihak yang mendengar dari orang lain, atau pihak ketiga.
Perlu dicek ke sumber asal. Jangan jadikan satu-satunya dasar fakta.
Orang biasa yang ditemui di lokasi.
Untuk suasana dan suara publik, bukan untuk fakta tunggal. Catat nama dan lokasi.
TV, Online, Cetak: Apa yang Kamu Bawa Pulang?
| TV | Online | Cetak | |
|---|---|---|---|
| Yang dikejar | SOT pendek dan utuh, ekspresi, gambar pendukung | Kutipan kuat dan kecepatan, bisa disertai rekaman audio atau video | Kutipan lebih panjang, detail, dan suasana yang dideskripsikan |
| Ukuran hasil | SOT umumnya sekitar 10 sampai 15 detik | Beberapa kutipan per naskah, bisa diperbarui | Ruang terbatas, tetapi bisa lebih dalam |
| Kekuatan | Wajah dan suara narasumber tampil langsung | Cepat tayang dan bisa dikoreksi | Ruang untuk konteks dan analisis |
| Perhatian khusus | Kualitas suara dan framing, tidak bisa ditarik setelah tayang | Verifikasi tetap wajib meski mengejar cepat | Akurasi detail karena akan terarsip |
Wawancarai sekali, tetapi bawa pulang bahan untuk semua platform yang kamu layani: rekaman audio, catatan, dan kalau bisa gambar.
Ini Wawancara Jenis Apa?
Enam kasus. Pilih jawabanmu lalu baca alasannya.
Selesai rapat paripurna, kamu menghadang ketua DPRD di lorong dan bertanya dua pertanyaan sambil ia berjalan menuju mobil.
Tanpa janji, singkat, narasumber bergerak: cegat.
Kamu menelepon dokter spesialis untuk mengomentari lonjakan kasus demam berdarah, dan merekamnya dengan izin.
Tanpa tatap muka, lewat telepon.
Kamu menanyakan "Bagaimana harga beras minggu ini?" kepada sepuluh pembeli di pasar.
Pertanyaan sama ke banyak warga biasa.
Kamu punya janji temu 20 menit dengan kepala dinas di kantornya untuk mengonfirmasi anggaran.
Ada janji, waktu, dan tempat.
Selama dua pekan kamu beberapa kali menemui seorang pengrajin untuk menulis profil panjang tentang hidupnya.
Beberapa sesi untuk profil: mendalam.
Anchor mengajukan pertanyaan langsung kepada pakar di studio saat siaran berlangsung.
Disiarkan saat itu juga, tidak bisa disunting.
PERSIAPAN
Wawancara yang baik dimenangkan sebelum mic menyala
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Sepuluh Butir Sebelum Bertanya
Tandai butir yang biasanya sudah kamu lakukan sebelum wawancara. Jujur saja.
Susun Alur Pertanyaan
Mulai dari tujuan: apa satu hal yang harus kamu bawa pulang? Dari situ, susun pertanyaan dengan urutan.
Mudah dan hangat. Membuat narasumber mulai bicara. Contoh: "Bisa ceritakan singkat apa yang terjadi?"
Pertanyaan utama sesuai angle. Spesifik dan berbasis data.
Pertanyaan yang menantang atau membutuhkan pertanggungjawaban. Ditanyakan setelah ada rasa percaya.
"Adakah hal lain yang perlu kami ketahui?" Sering menghasilkan jawaban terbaik.
Pertanyaan tajam tidak selalu paling akhir. Pada cegat, justru tanyakan yang paling penting di awal karena waktumu mungkin tinggal sepuluh detik.
Narasumber Datang, Kamu Belum Riset
Sering narasumber muncul begitu saja. Tiga langkah tiga puluh detik.
Nama, jabatan, dan kaitannya dengan isu. Tanyakan ke rekan atau lihat daftar hadir bila perlu.
Satu pertanyaan paling berguna untuk berita hari ini. Satu saja, spesifik.
Satu pertanyaan lanjutan bila ia menjawab normatif. Dua sudah cukup.
"Apa yang paling perlu diketahui publik sekarang?" • "Apa langkah berikutnya, dan kapan?" • "Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini?"
Teknis yang Sering Terlupa
Teknis untuk TV
- Tes mic dan audio sebelum mulai.
- Atur posisi: narasumber di sisi bingkai, latar relevan, cahaya baik.
- Minta izin merekam dan tanyakan apakah ada hal yang tidak boleh disorot.
- Kumpulkan gambar pendukung (B-roll) sebelum atau sesudah.
- Pastikan jawaban kunci diucapkan dalam kalimat utuh untuk SOT.
Teknis untuk online
- Rekam audio atau video ponsel, dan simpan dengan nama jelas.
- Catat waktu pada rekaman untuk memudahkan penelusuran kutipan.
- Kumpulkan kutipan kuat untuk judul dan paragraf pembuka.
- Verifikasi sebelum tayang, jangan menjadikan kecepatan alasan melewatkan cek.
- Ambil foto atau tangkapan layar dokumen yang disebutkan.
Teknis untuk cetak
- Siapkan buku catatan dan perekam suara. Jangan hanya mengandalkan satu.
- Catat deskripsi suasana: tempat, ekspresi, benda.
- Minta ejaan nama dan jabatan, serta angka yang disebut.
- Tanyakan hal yang perlu kamu kutip langsung dan yang bisa diparafrase.
- Kumpulkan dokumen pendukung bila ada.
TEKNIK BERTANYA
Pertanyaan yang tepat membuka jawaban yang tepat
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Pertanyaan Terbuka dan Tertutup
Diawali "bagaimana", "mengapa", "ceritakan", "apa dampaknya".
"Bagaimana warga menghadapi hari pertama setelah banjir?"
Pakai untuk: menggali kisah, alasan, dan konteks. Hasilnya bahan kutipan dan SOT.
Dijawab ya, tidak, atau satu angka. Diawali "apakah", "berapa", "kapan".
"Apakah korban sudah dievakuasi seluruhnya?"
Pakai untuk: konfirmasi fakta dan memaksa narasumber yang mengelak menjawab tegas.
Mulai dengan terbuka untuk menggali. Pakai tertutup untuk mengunci fakta yang kamu butuhkan. Jangan memulai wawancara dengan serangkaian pertanyaan tertutup: narasumber akan menjawab irit.
Lima Dosa Pertanyaan Wartawan
Ganda
Dua atau tiga pertanyaan sekaligus. Narasumber hanya menjawab yang mudah.
"Apa penyebab kebakaran, siapa korbannya, dan berapa kerugiannya?"
Pecah menjadi tiga pertanyaan. Tanyakan satu per satu.
Menggiring
Pertanyaan yang sudah memuat jawaban yang kamu inginkan.
"Tentunya Bapak setuju bahwa dinas lalai, bukan?"
"Bagaimana Bapak menilai kinerja dinas dalam kasus ini?"
Bertele-tele
Pembukaan panjang sebelum pertanyaan. Narasumber lupa apa yang ditanyakan.
"Seperti kita tahu, sejak beberapa bulan terakhir, dengan situasi yang..., menurut Bapak bagaimana?"
Satu kalimat, kurang dari dua puluh kata. Konteks singkat, lalu tanya.
Klise
Pertanyaan umum yang selalu dijawab normatif.
"Bagaimana tanggapan Anda?" kepada pejabat.
Spesifikkan: "Anggaran Rp40 miliar, realisasi Rp52 miliar. Apa penyebab selisihnya?"
Menghakimi
Pertanyaan bernada tuduhan sebelum ada bukti.
"Kenapa Anda menutup-nutupi masalah ini?"
"Mengapa laporan itu baru dibuka bulan ini?"
Mana yang Lebih Baik?
Pilih pertanyaan yang lebih tajam, netral, dan mudah dijawab.
Mana pertanyaan yang lebih baik untuk menggali pendapat seorang pejabat?
Pertanyaan terbuka dan spesifik menghasilkan jawaban yang bisa dikutip.
Mana yang lebih baik untuk mengetahui kejadian dari saksi?
Yang pertama ganda. Pertanyaan tunggal lebih mudah dijawab.
Mana yang lebih netral?
Yang pertama menggiring.
Kamu mewawancarai ibu yang kehilangan anaknya dalam kebakaran. Mana yang lebih pantas?
Pertanyaan klise tentang perasaan bisa terasa tidak peka. Beri pilihan dan ruang.
Mana yang lebih berbasis data?
Pertanyaan yang memuat data menuntut jawaban spesifik.
Mana yang lebih mudah menghasilkan SOT bernas?
Pertanyaan yang spesifik memancing jawaban pendek yang pas untuk dikutip.
Tulis Pertanyaanmu, Biarkan Diperiksa
Ketik pertanyaan yang ingin kamu ajukan. Pemeriksa sederhana ini mencari tanda-tanda ganda, menggiring, tertutup, panjang, atau terlalu umum.
Pemeriksa hanya membaca pola kata. Ia tidak bisa menggantikan penilaianmu.
Pertanyaan Kedua Lebih Penting
Jawaban pertama biasanya yang aman. Berita sering ada di pertanyaan lanjutan.
"Bisa beri contohnya?"
Mengubah jawaban umum menjadi cerita konkret.
Narasumber: "Warga sangat terdampak." Kamu: "Bisa beri contoh satu keluarga yang paling terdampak?"
"Berapa tepatnya?"
Membongkar kata-kata samar seperti "banyak", "sebagian", atau "cukup besar".
Narasumber: "Cukup banyak yang terdampak." Kamu: "Berapa kepala keluarga, menurut data Bapak?"
"Bisa dijelaskan lebih lanjut?"
Mendorong narasumber menjelaskan alasan atau mekanisme.
Narasumber: "Kami menunda proyek." Kamu: "Apa pertimbangan utama penundaan itu?"
"Lalu apa yang terjadi?"
Menggali kelanjutan dan dampak dari satu fakta.
Narasumber: "Pasokan terhenti." Kamu: "Lalu apa yang dilakukan pedagang?"
Diam sengaja
Setelah narasumber selesai menjawab, tunggu dua sampai tiga detik. Banyak orang melengkapi jawabannya sendiri.
Berat di awal, tetapi sering menghasilkan jawaban terbaik. Pada TV, diam juga membantu pemotongan gambar.
Memancing SOT yang Layak Tayang
Kalau jawabanmu panjang dan berbelit, editor tidak bisa memotongnya. Berikut beberapa teknik untuk mendapat kutipan bersih.
Jawaban pendek dimulai dari pertanyaan pendek.
"Maaf, bisa diulang dengan satu kalimat saja?" Hampir selalu berhasil.
"Tolong jelaskan dengan kalimat lengkap, supaya jelas untuk penonton." Hindari jawaban yang hanya bisa dipahami lewat pertanyaanmu.
Kuis: pilih jawaban yang paling layak.
Pertanyaan: "Apa dampak kenaikan harga beras?" Mana jawaban yang paling layak jadi SOT TV?
Bertele-tele dan sulit dipotong.
Pendek, tetapi tidak membawa informasi baru.
Ringkas, utuh, berisi fakta.
SOT yang baik: pendek, utuh, berisi fakta atau emosi, dan tidak mengulang narasi.
Seorang korban kebakaran ditanya: "Apa yang tersisa?" Mana yang paling kuat?
Konkret dan emosional tanpa berlebihan.
Emosi tanpa detail.
Informasi penting, tetapi panjang dan datar.
Detail konkret lebih menyentuh daripada kata sifat.
Pejabat ditanya: "Apa langkah pemerintah?" Mana yang layak tayang?
Normatif, tanpa informasi.
Spesifik dan bisa dicek.
Jujur tetapi kosong.
Pejabat sering memberi jawaban normatif. Tugasmu mengejar yang spesifik.
NARASUMBER SULIT
Tidak semua narasumber ramah. Bagaimana tetap mendapat jawabannya?
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Tujuh Tipe Narasumber Sulit
Pilih tipenya, lalu lihat apa yang dilakukan dan dihindari.
Irit bicara
Gejala: Menjawab "ya", "tidak", atau "terserah".
• Ganti dengan pertanyaan terbuka dan minta contoh.
• Beri jeda dan ruang bicara.
• Mulai dari topik yang ia sukai atau kuasai.
Menembaki pertanyaan tertutup atau menjawabkan untuknya.
Bertele-tele
Gejala: Bicara panjang, melebar, dan lupa pertanyaan.
• Potong dengan sopan: "Sebentar, Pak, kembali ke pertanyaan tadi..."
• Ulang pertanyaan dengan lebih sempit.
• Minta ringkasan satu kalimat.
Membiarkan terus, lalu pusing saat menyunting.
Mengelak
Gejala: Menjawab hal lain, atau mengalihkan topik.
• Ulangi pertanyaan dengan kata yang sama, tenang.
• Pakai pertanyaan tertutup untuk mengunci.
• Tunjukkan data: "Dokumen menyebut ..., apa tanggapan Bapak?"
Menuduh langsung "Anda menghindar!" di depan kamera.
Marah
Gejala: Suara meninggi, menolak ditanya, mengancam.
• Tetap tenang, turunkan nada, jaga jarak.
• Jelaskan peranmu dan hak publik atas informasi.
• Mundur bila keselamatan terancam dan lapor ke redaksi.
Melawan, berdebat, atau merebut mic kembali.
Berduka
Gejala: Menangis, terdiam, atau gemetar.
• Hentikan sejenak, beri ruang.
• Tanyakan apakah ia bersedia melanjutkan.
• Hormati penolakan, jangan memaksa demi emosi.
Terus bertanya supaya dapat "momen air mata".
Normatif
Gejala: Jawaban umum seperti "kami akan mengkaji".
• Ulangi dengan pertanyaan spesifik: siapa, kapan, berapa.
• Minta contoh nyata.
• Pakai data atau pernyataan sebelumnya.
Menerima jawaban kosong lalu menayangkannya.
Menolak
Gejala: Tidak mau diwawancarai atau kabur.
• Sampaikan alasan wawancara dengan jelas dan sopan.
• Tawarkan pertanyaan tertulis atau waktu lain.
• Catat penolakannya: "Yang bersangkutan menolak memberi tanggapan."
Menguntit atau menghalangi jalan.
"Kami Akan Mengkaji": Menembus Jawaban Normatif
Jawaban normatif aman bagi narasumber, tetapi kosong bagi publik. Tiga langkah berikut mempersempit ruang bersembunyinya.
- Spesifikkan. Ganti "bagaimana tanggapan Anda" dengan siapa, kapan, dan berapa.
- Minta contoh nyata. "Bisa sebutkan satu kasus di mana prosedur itu sudah dijalankan?"
- Tunjukkan data. "Laporan menyebut ... Apa penjelasan Bapak?"
"Kami akan menindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku."
"Kapan hasil kajiannya keluar, dan siapa yang bertanggung jawab bila terlambat?"
Kalau tetap tidak menjawab, tulis atau katakan bahwa narasumber tidak memberi jawaban atas pertanyaan itu. Itu juga informasi bagi publik.
Apa yang Kamu Lakukan?
Lima situasi sulit. Setiap pilihan bernilai 0 sampai 2 poin.
Pejabat menjawab: "Kami akan mengkaji dan menindaklanjuti sesuai mekanisme." Apa yang kamu lakukan?
Spesifikkan dan tetap sopan.
Narasumber hanya menjawab "ya" dan "tidak" dari tadi.
Pertanyaan terbuka dan ruang bicara membuka narasumber irit.
Seorang ibu korban kebakaran mulai menangis saat kamu bertanya.
Empati dan persetujuan lebih utama daripada gambar.
Setelah menyampaikan hal penting, narasumber berkata, "Ini off the record ya."
Status wawancara disepakati sebelum informasi diberikan. Setelahnya, bicarakan dan cari konfirmasi lain.
Narasumber marah, berteriak, dan hendak merebut kameramu.
Keselamatan dan rekaman yang aman lebih penting daripada gambar tambahan.
ETIKA DAN HUKUM
Batas apa yang boleh dikutip, siapa yang harus dilindungi, dan apa yang harus akurat
Disusun oleh Agung Hardiansyah
On the Record, Background, Off the Record
Sebelum bertanya, pastikan kamu dan narasumber memahami istilahnya dengan arti yang sama. Jelaskan dengan kata sederhana.
On the record
Seluruh pernyataan boleh dikutip lengkap dengan nama dan jabatan narasumber.
Status bawaan wawancara. Tetap pastikan narasumber tahu kamu sedang mewawancarainya sebagai wartawan.
Background
Informasi boleh dipakai, tetapi sumbernya tidak disebut identitasnya. Misalnya "menurut pejabat yang mengetahui masalah ini".
Sepakati bentuk atribusinya sebelum informasi diberikan.
Deep background
Informasi dipakai sebagai pemahaman, tanpa dikutip dan tanpa menyebut sumber.
Kamu tetap perlu mencari konfirmasi lain sebelum menulis fakta dari informasi ini.
Off the record
Informasi tidak untuk disiarkan atau dikutip.
Hanya sah bila disepakati sebelum informasi diberikan. Setelah terlanjur bicara, bicarakan kembali dan cari konfirmasi dari sumber lain.
Embargo
Informasi boleh dipakai, tetapi baru boleh disiarkan pada waktu yang disepakati.
Catat waktu embargo dengan jelas dan jangan melanggarnya karena persaingan.
Acuan: Kode Etik Jurnalistik, pedoman redaksi, dan peraturan terkait. Periksa dokumen aslinya untuk ketentuan terbaru.
Mewawancarai Mereka yang Rentan
- Dahulukan empati dan izin.
- Jangan memaksa bercerita.
- Hati-hati menyebut identitas sebelum keluarga mengetahui.
- Wawancara sebaiknya didampingi orang tua atau wali.
- Samarkan identitas anak yang terlibat kasus.
- Pertimbangkan dampaknya pada anak di masa depan.
- Lindungi identitas: wajah, suara, nama, dan detail penunjuk.
- Hindari pertanyaan yang menyalahkan.
- Tawarkan hak untuk berhenti kapan saja.
Tanyakan pada dirimu: kalau ini keluargaku, apakah aku rela ia ditanyai dan ditayangkan seperti ini?
Kutipan Harus Bisa Dipertanggungjawabkan
Kutipan harus sesuai dengan yang diucapkan. Memotong boleh, asal tidak mengubah makna.
Sebut siapa yang berkata, jabatannya, dan konteks. Hindari "katanya" tanpa sumber.
Pihak yang dituduh berhak memberi tanggapan. Catat upayamu menghubunginya.
Simpan rekaman dan catatan. Bila ada sanggahan, kamu bisa membuktikan.
Pada umumnya redaksi tidak menyerahkan naskah untuk disetujui. Kamu boleh mengonfirmasi ulang kutipan atau fakta tertentu, tetapi isi dan sudut pandang tetap keputusan redaksi.
Keputusan di Wilayah Abu-Abu
Lima situasi. Beberapa jawaban bisa diperdebatkan, dan perdebatannya adalah bagian dari pelatihan.
Narasumber meminta membaca naskahmu sebelum tayang dan ingin mengubah beberapa kalimat.
Isi dan sudut pandang adalah keputusan redaksi, tetapi akurasi kutipan boleh dikonfirmasi.
Anak berusia 12 tahun menjadi saksi kejahatan dan ingin bercerita. Orang tuanya tidak ada.
Anak butuh pendamping dan perlindungan identitas.
Setelah tayang, pejabat minta kutipannya dihapus dengan alasan salah ucap.
Kutipan akurat tidak dihapus hanya karena narasumber menyesal.
Seorang karyawan mau membongkar pelanggaran perusahaan, tetapi takut dipecat dan meminta namanya dirahasiakan.
Anonimitas boleh bila ada ancaman nyata, tetapi informasinya tetap harus diverifikasi.
Korban kekerasan seksual bersedia bercerita di depan kamera.
Detail penunjuk bisa membuka identitas meski nama disamarkan.
SETELAH WAWANCARA
Wawancara belum selesai sampai kutipannya benar dan terdokumentasi
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Enam Hal yang Dicek Ulang
- Ejaan nama dan jabatan. Salah nama adalah kesalahan paling mudah dan paling memalukan.
- Angka. Cocokkan dengan dokumen atau data resmi.
- Kutipan. Putar ulang rekaman. Pastikan sesuai dan tidak keluar dari konteks.
- Pihak lain. Pihak yang dituduh sudah dihubungi dan tanggapannya dicatat?
- Status. Ada bagian off the record, background, atau embargo yang tidak boleh dikutip?
- Dokumentasi. Simpan rekaman, catatan, dan waktu wawancara dengan aman.
Bila narasumber menyangkal atau ada gugatan, rekamanmu adalah bukti terbaik bahwa kutipan akurat.
Satu Wawancara, Tiga Pengolahan
Mengolah untuk TV
- Pilih SOT yang ringkas, utuh, dan membawa informasi atau emosi baru.
- Jangan mengulang isi SOT di narasi.
- Tandai bagian yang tidak boleh tayang.
- Cek durasi dan sinkronisasi gambar.
Mengolah untuk online
- Pakai kutipan terkuat di paragraf pembuka atau judul.
- Gunakan subjudul untuk membagi jawaban panjang.
- Tautkan sumber dokumen bila ada.
- Perbarui naskah bila ada tanggapan tambahan.
Mengolah untuk cetak
- Pilih kutipan langsung untuk hal yang khas, parafrase untuk informasi umum.
- Tambahkan deskripsi suasana dan ekspresi.
- Susun urutan: kutipan kuat, konteks, lalu pendalaman.
- Pastikan tiap kutipan ada atribusi.
LATIHAN DAN STUDI KASUS
Simulasi sehari wawancara, praktik berpasangan, dan kasus untuk diperdebatkan
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Hari Wawancara-mu: Enam Keputusan
Ikuti satu hari kerja, dari persiapan sampai protes setelah tayang. Tiap pilihan bernilai 0 sampai 2 poin.
07.30. Redaksi menugaskanmu mencegat Kepala Dinas soal harga pangan yang naik. Ia akan tiba sekitar sepuluh menit lagi.
Sepuluh menit cukup untuk satu angle yang tajam.
09.00. Kepala Dinas berjalan cepat, wartawan berebut mic.
Pada cegat, waktu sangat sedikit. Pertanyaan terbaik dahulu.
09.02. Ia menjawab: "Kami akan menindaklanjuti sesuai mekanisme."
Spesifikkan dan tetap sopan.
14.00. Pakar ekonomi menjawab panjang dan teknis, padahal TV butuh SOT ringkas.
Meminta ringkasan sambil wawancara menghemat waktu menyunting.
16.00. Seorang ibu korban banjir menangis saat bercerita.
Empati dan persetujuan.
19.00. Setelah tayang, pejabat memprotes kutipannya.
Kutipan akurat dipertahankan. Hak jawab tetap diberikan.
Tiga Orang, Tiga Peran, Tiga Menit
Bentuk kelompok tiga orang. Putar peran sampai semua mencoba. Pengamat menilai dengan checklist.
Kamu mewawancarai narasumber tentang pengalamannya. Susun lima pertanyaan, mulai dari pembuka sampai penutup.
Ambil peran: Kepala Dinas Pasar yang enggan menyebut penyebab harga naik. Jawab normatif di awal, baru terbuka bila ditanya spesifik.
Catat pertanyaan, hitung follow-up, dan nilai dengan checklist di bawah.
Lima Kasus untuk Diperdebatkan
Semua kasus fiktif tetapi terinspirasi situasi yang lazim terjadi. Pilih satu, diskusikan, lalu bagikan hasilnya.
Kutipan dipotong
Narasumber berkata: "Kami tidak menolak pembangunan itu, tetapi lokasinya perlu dikaji ulang." Reporter hanya memakai "Kami menolak pembangunan itu". Narasumber memprotes.
1. Apakah ini pemotongan yang sah?
2. Bagaimana koreksi yang tepat?
3. Bagaimana mencegahnya?
Catatan fasilitator
Pemotongan yang mengubah makna melanggar akurasi. Koreksi terbuka, lalu tetapkan aturan memeriksa kutipan dengan rekaman.
Off the record yang bocor
Seorang pejabat bercerita santai tentang proyek bermasalah. Reporter muda mengira itu "background" dan menayangkannya. Pejabat mengatakan sudah menyebut "off the record".
1. Di mana letak kesalahpahaman?
2. Apa yang seharusnya dilakukan sebelum wawancara?
3. Bagaimana menangani setelah tayang?
Catatan fasilitator
Istilah harus disepakati sebelum bicara. Redaksi perlu panduan istilah yang seragam.
Cegat kebablasan
Reporter menghalangi jalan Wali Kota dan mic-nya ditepis. Videonya viral dan stasiun dikritik.
1. Apa batas cegat yang pantas?
2. Apa peran redaksi dalam membekali reporter?
3. Bagaimana tanggapan stasiun?
Catatan fasilitator
Cegat tidak boleh menghalangi atau membahayakan. Tentukan jarak aman dan cara menyampaikan pertanyaan.
Wawancara anak korban
Producer meminta wawancara anak korban kebakaran untuk "emosi" di PKG. Orang tuanya belum bisa dihubungi.
1. Apakah wawancara boleh dilakukan?
2. Alternatif apa yang bisa diambil?
3. Bagaimana menolak producer dengan profesional?
Catatan fasilitator
Tunggu pendamping dan izin, atau cari narasumber dewasa. Lindungi identitas anak.
Narasumber minta bayaran
Seorang narasumber ahli meminta uang transport dan "uang lelah" sebelum bersedia diwawancarai.
1. Apakah ini boleh diterima?
2. Apa risikonya bagi independensi?
3. Bagaimana kebijakan redaksi menanganinya?
Catatan fasilitator
Prinsipnya imbalan tidak boleh mempengaruhi isi. Ikuti kebijakan redaksi dan kode etik.
Sepuluh Pegangan Pewawancara
Tentukan satu angle dan tulis pertanyaan kuncimu sebelum bertemu narasumber.
Satu pertanyaan, satu hal.
Netral, jangan menggiring. Biarkan fakta yang bicara.
Terbuka untuk menggali, tertutup untuk mengunci.
Pertanyaan kedua sering lebih penting dari yang pertama.
Kejar SOT dan kutipan yang pendek, utuh, dan berisi.
Hadapi narasumber sulit dengan tenang dan spesifik.
Sepakati status wawancara sebelum informasi diberikan.
Lindungi anak, korban, dan kelompok rentan.
Cek ulang nama, angka, dan kutipan, lalu simpan rekamannya.
THANK YOU
Butuh diskusi atau kolaborasi lebih lanjut? Silakan hubungi redaksi TILTUP.ID.
Disusun oleh Agung Hardiansyah