VERIFIKASI DAN CEK FAKTA DI ERA AI
MEMERIKSA FOTO, VIDEO, SUARA, DAN KLAIM SEBELUM TAYANG
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Di laptop: ←→ pindah slide, M menu, / cari, F layar penuh. Di ponsel atau tablet: pakai tombol bawah atau geser layar. Hampir semua kotak dan tombol bisa diklik.
120 Menit, Enam Bagian
Verifikasi adalah inti jurnalisme, dan AI membuatnya makin menantang. Ketuk bagian mana pun untuk melompat.
Kasus latihan memakai tokoh dan lokasi fiktif. Kasus nyata bersumber dari laporan publik yang dicantumkan di slide sumber. Fitur alat dan platform cepat berubah: cek kembali sebelum dipakai.
Mengapa Verifikasi Makin Sulit
Apa yang berubah, seberapa besar masalahnya, dan jenis konten yang harus diwaspadai.
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Dulu Memalsukan Itu Sulit, Kini Murah
Verifikasi bukan hal baru. Yang baru adalah biaya membuat konten palsu yang meyakinkan nyaris nol, sementara kecepatan sebar tetap tinggi.
Siapa pun bisa membuat
- Gambar, suara, dan video yang tampak meyakinkan dapat dibuat dalam hitungan menit dengan alat yang mudah diakses.
- Tidak perlu keahlian penyuntingan; cukup menulis perintah.
- Akibatnya jumlah konten meragukan naik, sementara jumlah pemeriksa tidak ikut naik.
Klaim lebih cepat dari verifikasi
- Pesan berantai, video pendek, dan unggahan ulang menyebar jauh sebelum pemeriksaan selesai.
- Redaksi tergoda ikut cepat demi lalu lintas.
- Aturan sederhana: lebih baik terlambat dan benar daripada cepat dan menyebarkan kekeliruan.
Dividen pendusta (liar's dividend)
- Ketika orang tahu konten bisa dipalsukan, konten asli pun mudah dibantah dengan "itu cuma AI".
- Pihak yang terekam melakukan hal buruk dapat mengelak dengan alasan itu.
- Karena itu verifikasi harus bisa membuktikan keaslian, bukan hanya menemukan kepalsuan.
Deadline, jumlah, dan algoritma
- Tuntutan tayang cepat, sumber daya terbatas, dan mengejar topik yang sedang ramai.
- Konten emosional paling mudah lolos karena kita ingin percaya atau ingin marah.
- Prosedur tertulis membantu: keputusan tidak bergantung pada perasaan saat deadline.
Teknologi baru tidak mengubah tugas wartawan: menguji informasi sebelum menyiarkannya (Kode Etik Jurnalistik Pasal 3).
Berita Kini Datang Lewat Ponsel
Data Reuters Institute Digital News Report 2026 menunjukkan ke mana audiens Indonesia pergi untuk mencari berita.
menjadikannya sumber berita utama, naik 8 poin persentase dari tahun sebelumnya.
memakainya sebagai sumber berita, naik 13 poin. Ruang paling sulit diawasi karena tertutup.
memakainya untuk berita dalam sepekan terakhir, salah satu yang tertinggi di dunia.
memakainya untuk berita. Rata-rata global sekitar 10%.
Pejabat Komdigi pernah mengutip Sensity AI bahwa konten deepfake di Indonesia naik 550% dalam lima tahun terakhir (September 2025). Angka dasarnya tidak dipublikasikan, jadi pakai sebagai gambaran arah, bukan angka pasti. Mafindo mencatat sebagian besar video hoaks bertema penipuan pada 2025 adalah deepfake.
Konten yang perlu diverifikasi paling banyak datang lewat pesan tertutup dan video pendek, bukan lewat situs berita. Redaksi perlu mengikuti ke sana.
Tidak Semua Salah Sama Jenisnya
Cara memeriksa dan menulisnya berbeda tergantung jenis masalahnya.
Berdasarkan niat dan kebenaran
- Misinformasi: salah, tetapi penyebarnya tidak berniat menipu (terlanjur percaya lalu meneruskan).
- Disinformasi: salah dan sengaja dibuat atau disebar untuk menipu atau merugikan.
- Malinformasi: informasi benar yang dipakai untuk merugikan, misalnya membocorkan data pribadi.
- Istilah ini dari Wardle dan Derakhshan (2017).
Bentuk yang paling sering ditemui
- Konteks salah: konten asli dipakai untuk peristiwa lain.
- Dimanipulasi: konten asli diubah (disunting, dipotong, ditambah).
- Buatan penuh: seluruhnya dibuat, kini sering dengan AI (gambar, suara, video).
- Tiruan sumber: mencatut logo, nama, atau tata letak media atau pejabat.
- Satire: bukan untuk menipu, tetapi dapat disangka berita bila dipotong dari konteks.
Beda jenis, beda penanganan
- Konteks salah: cari unggahan tertua dan peristiwa aslinya.
- Dimanipulasi: bandingkan dengan versi asli, periksa tanda penyuntingan.
- Buatan penuh: periksa asal-usul, cari tanda watermark atau kredensial, cari sumber primer.
- Tiruan sumber: periksa langsung ke kanal resmi pihak yang dicatut.
- Satire: tulis jelas bahwa itu parodi bila ikut membahasnya.
Masuk Jenis yang Mana?
Baca kasusnya, pilih jenis masalahnya, lalu baca alasannya. Delapan kasus fiktif.
Dasar Verifikasi ?
Pilih jawaban yang paling tepat.
Apa kelemahan terbesar jika kita hanya mengandalkan "kelihatan aneh atau tidak"?
Intuisi visual tidak bisa menjadi satu-satunya dasar.
Foto lama dipakai untuk peristiwa baru. Itu jenis...
Konten asli, konteksnya keliru.
Apa itu "dividen pendusta"?
Teknologi tiruan membuat bukti asli pun diragukan.
Mengapa WhatsApp menjadi ruang yang sulit?
Pesan berantai menyebar tanpa pengawasan publik.
Pilih sikap paling tepat saat konten viral muncul menjelang deadline.
Jumlah bagikan bukan bukti. Lebih baik terlambat dan benar.
Alur Verifikasi Dasar
Lima pertanyaan, empat gerakan, dan satu prosedur yang bisa dijalankan di bawah deadline.
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Asal, Sumber, Tanggal, Lokasi, Motif
Lima pertanyaan ini berlaku untuk foto, video, dokumen, dan kutipan. Jawab kelimanya sebelum menyimpulkan.
Apakah ini konten asli, dan dari mana?
- Cari unggahan tertua, bukan yang paling ramai.
- Minta berkas asli (bukan tangkapan layar) bila memungkinkan.
- Periksa apakah ini hasil rekaman, penyuntingan, atau buatan AI.
Siapa yang membuat atau mengunggah?
- Periksa riwayat akun: usia, pola unggahan, kaitan dengan peristiwa.
- Bedakan pengunggah, perekam, dan saksi. Bisa tiga orang berbeda.
- Hubungi langsung bila mungkin: saksi harus bisa menjelaskan detail yang tidak tampak di gambar.
Kapan ini direkam?
- Cocokkan dengan cuaca, bayangan, peristiwa lain pada hari itu.
- Cari versi lama lewat pencarian gambar terbalik dan arsip web.
- Waktu unggah bukan waktu rekam.
Di mana ini direkam?
- Cocokkan papan nama, bentuk jalan, bangunan, dan lanskap dengan peta dan citra satelit.
- Satu petunjuk bisa kebetulan; cari beberapa yang saling menguatkan.
- Konfirmasi ke warga setempat atau pihak berwenang.
Mengapa ini dibuat dan disebarkan?
- Siapa yang diuntungkan? Politik, uang, popularitas, usil?
- Apakah ada ajakan bertindak mendesak (transfer, sebar, marah)?
- Motif tidak membuktikan palsu, tetapi menentukan seberapa curiga kita harus bersikap.
Berhenti, Selidiki, Cari, Telusuri
SIFT dirancang Mike Caulfield sebagai kebiasaan singkat sebelum percaya dan membagikan. Cocok untuk wartawan dan untuk audiens.
Berhenti dulu
Sadari rasa kaget atau marah. Jangan bagikan, jangan tulis, jangan kutip dulu.
Selidiki sumbernya
Siapa di baliknya, apakah punya rekam jejak, dan apa kepentingannya. Cari lewat laman lain, bukan lewat laman akun itu sendiri.
Cari liputan yang lebih baik
Adakah media atau lembaga tepercaya yang sudah melaporkan hal sama? Pemeriksa fakta sudah memeriksa?
Telusuri ke asalnya
Ikuti kutipan, angka, atau gambar kembali ke konteks aslinya. Banyak klaim berubah makna di tengah jalan.
Lima pilar menilai satu konten secara rinci. SIFT adalah kebiasaan cepat untuk memutuskan perlu tidaknya pemeriksaan rinci.
Susun Langkahnya
Sebuah video viral masuk ke grup redaksi. Urutkan langkah kerja yang paling masuk akal. Ketuk langkah sesuai urutan, lalu periksa.
Tulis Seberapa Yakin Kamu Sebenarnya
Hasil verifikasi punya tingkat. Bahasa yang kita pilih harus setia pada tingkat itu.
| Status | Artinya | Contoh penulisan |
|---|---|---|
| Terverifikasi | Asal, waktu, dan lokasi terkonfirmasi lebih dari satu jalur independen | "Video ini direkam di Jalan X pada 12 Oktober, dikonfirmasi oleh BPBD dan dua saksi." |
| Sebagian terverifikasi | Sebagian unsur terbukti, sebagian belum | "Lokasi cocok dengan Jalan X, tetapi waktu rekam belum dapat dipastikan." |
| Belum terverifikasi | Belum cukup bukti; proses masih berjalan | "Video yang beredar ini belum dapat kami verifikasi." |
| Terbukti keliru | Ada bukti kuat bahwa klaim salah, dengan pembanding | "Foto ini bukan peristiwa hari ini. Foto yang sama dimuat pada 2019 oleh ..." |
| Tidak dapat diverifikasi | Setelah upaya wajar, bukti tidak mungkin diperoleh | "Kami tidak dapat memastikan keaslian rekaman ini." |
Menyebut "hoaks" tanpa pembanding, atau menulis "diduga asli" padahal belum diperiksa. Satu kata keliru bisa lebih berbahaya dari konten aslinya.
Sebelum Menekan Tombol Tayang
Ketuk setiap syarat yang sudah terpenuhi. Satu pintu tertutup berarti tahan dulu.
Alur Verifikasi ?
Pilih jawaban yang paling tepat.
Mana yang BUKAN salah satu dari lima pilar?
Lima pilar: asal, sumber, tanggal, lokasi, motif.
Apa arti huruf F pada SIFT?
Cari apakah media atau pemeriksa fakta tepercaya sudah menulisnya.
Bila waktu rekam belum dapat dipastikan tetapi lokasi cocok, status paling tepat...
Tulis unsur yang terbukti dan yang belum.
Mengapa kita menyimpan salinan dan tangkapan layar di awal?
Amankan bukti sebelum hilang.
Pesan berantai mengatakan sebuah lembaga akan membagikan bantuan. Langkah SIFT yang tepat?
Telusuri ke sumber primer.
Gambar dan Video
Cari asal, baca jejak, cocokkan lokasi, dan pahami batas tanda visual serta kredensial konten.
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Cari Versi Paling Tua
Cara tercepat memastikan sebuah foto atau video dipakai di luar konteks: temukan kemunculan pertamanya.
Langkah untuk foto
- Unggah foto atau tempel tautannya ke mesin pencarian gambar (misalnya Google Lens, TinEye, Bing, atau Yandex).
- Urutkan atau telusuri hasil untuk menemukan tanggal tertua.
- Coba beberapa mesin: hasilnya berbeda, dan satu bisa menemukan yang lain tidak.
- Pangkas bagian foto yang penting (wajah, papan nama) lalu cari lagi.
Langkah untuk video
- Ambil bingkai kunci (keyframe) dari beberapa titik video, lalu cari tiap bingkai seperti foto.
- Perangkat seperti ekstensi InVID-WeVerify membantu mengambil bingkai dan memeriksa video.
- Perhatikan unggahan lama di platform lain atau akun lain.
Cari jejak lama
- Telusuri arsip web (misalnya Wayback Machine) untuk melihat halaman sebelum diubah atau dihapus.
- Gunakan pencarian dengan rentang tanggal untuk membandingkan unggahan sebelum peristiwa yang diklaim.
- Catat tautan, jam akses, dan simpan tangkapan layar.
Yang perlu diingat
- Tidak ketemu hasil bukan berarti asli: bisa jadi belum terindeks atau dari platform tertutup.
- Gambar buatan AI baru tidak punya "versi lama" sama sekali. Tidak ada kecocokan justru patut dicurigai bila konten mengaku peristiwa lama.
- Hasil mesin pencari adalah petunjuk, lanjutkan dengan verifikasi lain.
Metadata Itu Petunjuk, Bukan Bukti
Berkas foto dan video asli sering memuat data tentang perangkat, waktu, dan kadang lokasi. Tetapi data itu mudah hilang dan bisa diubah.
- Tipe kamera atau ponsel
- Waktu rekam menurut jam perangkat
- Koordinat GPS bila diaktifkan
- Aplikasi penyunting yang pernah dipakai
- Banyak aplikasi pesan dan media sosial menghapus metadata saat mengunggah
- Jam perangkat bisa salah atau sengaja diubah
- Metadata dapat ditulis ulang dengan alat sederhana
- Gambar buatan AI bisa saja tidak memuat data apa pun, atau memuat data palsu
Minta berkas asli (bukan tangkapan layar) dari perekamnya, baca metadata, lalu cocokkan dengan bukti lain. Jika sama, menguatkan. Jika berbeda, curigai. Jika kosong, jangan simpulkan apa pun.
Baca Petunjuk di Dalam Gambar
Ketuk tiap petunjuk untuk melihat teknik dan alatnya. Lalu jawab pertanyaan akhir.
Tanda Visual: Berguna, tetapi Cepat Usang
Gambar AI kerap meninggalkan kejanggalan. Namun model terus membaik, dan foto asli pun bisa tampak janggal.
Anatomi dan detail kecil
- Jari, gigi, telinga, perhiasan yang tidak konsisten antarbagian gambar.
- Kulit terlalu mulus atau kilau tidak wajar.
- Wajah-wajah di latar belakang yang meleleh atau mirip satu sama lain.
Tulisan dan logo
- Teks di papan, kaos, atau spanduk yang tidak terbaca atau salah huruf.
- Logo dan seragam yang hampir mirip tetapi tidak persis.
- Angka dan plat nomor yang tidak masuk akal.
Cahaya, bayangan, pantulan
- Bayangan dan sumber cahaya tidak sejalan.
- Pantulan di kaca atau air tidak sesuai dengan objeknya.
- Perspektif lantai, dinding, atau garis yang melengkung janggal.
Dari luar gambar
- Tidak ada perekam, tidak ada sudut lain, tidak ada saksi.
- Terlalu sempurna dan terlalu dramatis untuk peristiwa yang katanya spontan.
- Tidak ada hasil di pencarian gambar terbalik padahal mengaku peristiwa besar.
Jangan jadikan satu-satunya dasar
- Model baru mengatasi banyak kejanggalan lama, misalnya soal jari.
- Kompresi dan kualitas rendah membuat foto asli tampak aneh.
- Pemeriksaan visual hanya melengkapi asal-usul, konfirmasi, dan alat lain.
Watermark dan Kredensial Konten
Dua pendekatan melengkapi pemeriksaan manual: tanda tak terlihat di dalam konten (watermark) dan catatan asal-usul yang menempel pada berkas (kredensial).
Tanda tak kasatmata
- SynthID menanam sinyal tak terlihat pada konten buatan sistem AI tertentu.
- Menurut laporan pada 7 Oktober 2026, Google membuka SynthID Detector untuk publik secara global (antarmuka bahasa Inggris), mencakup gambar, video, dan audio.
- Aplikasi Gemini juga dapat memeriksa gambar terhadap watermark SynthID sejak November 2025.
- Dirancang tetap terdeteksi meski dipotong, difilter, atau dikompresi.
Catatan asal-usul
- C2PA adalah standar terbuka yang mencatat siapa membuat dan mengubah sebuah berkas. Tampilannya disebut Content Credentials.
- Versi 2.3 diumumkan Februari 2026; lebih dari 6.000 anggota dan afiliasi memakai aplikasi aktif.
- Kredensial bisa hilang bila berkas diunggah ulang atau di-screenshot.
Hasil negatif tidak membuktikan apa-apa
- Tidak ada watermark: bisa dibuat dengan AI lain atau alat tanpa watermark.
- Tidak ada kredensial: bukan berarti palsu; sebagian besar foto asli belum memilikinya.
- Ada watermark: membuktikan dibuat atau diedit AI tertentu, belum menjelaskan makna atau konteksnya.
- Google sendiri menyebutnya bagian dari upaya memberi konteks, bukan solusi universal.
Cara memakainya
- Periksa watermark dan kredensial sebagai satu lapis bukti.
- Simpan hasil pemeriksaan dalam log verifikasi.
- Bila membuat konten sendiri, pertimbangkan menyertakan kredensial dan label yang jelas.
Fitur dan cakupan alat ini cepat berubah. Periksa pengumuman resmi pengembang sebelum menjadikannya prosedur tetap.
Gambar dan Video ?
Pilih jawaban yang paling tepat.
Hasil pencarian gambar terbalik tidak menemukan apa pun. Kesimpulan paling tepat...
Tidak ada hasil bukan bukti keaslian.
Metadata menunjukkan waktu rekam kemarin, tetapi foto dikirim lewat pesan berantai. Sikap yang tepat?
Metadata adalah petunjuk.
Alat tidak menemukan watermark SynthID pada gambar. Artinya...
Hasil negatif tidak menyimpulkan apa pun.
Mengapa "jari yang janggal" tidak boleh jadi dasar tunggal?
Tanda visual cepat usang.
Satu petunjuk lokasi cocok dengan peta. Cukupkah?
Satu petunjuk bisa kebetulan.
Suara, Teks, dan Deepfake
Memeriksa rekaman suara, video wajah, teks dari chatbot, dan pesan berantai.
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Suara Mirip Bukan Bukti
Kloning suara kini membutuhkan contoh suara singkat. Rekaman yang terdengar persis seperti tokoh atau atasan bisa saja tiruan.
- Penipuan berkedok atasan atau keluarga yang meminta transfer.
- Rekaman "bocoran" untuk menjatuhkan tokoh.
- Pesan suara berantai yang mengatasnamakan pejabat.
- Hubungi pihak yang suaranya dipakai lewat jalur lain dan tanyakan.
- Cari rekaman asli: pidato, wawancara, atau siaran resmi.
- Dengarkan konteks: latar, jeda napas, bahasa yang biasa dipakai orangnya.
- Cari asal unggahan pertama dan siapa yang diuntungkan.
- Periksa watermark atau kredensial bila ada.
Detektor audio terbukti lemah menghadapi teknik baru yang tidak ada dalam data latihnya. Verifikasi asal dan konfirmasi manusia jauh lebih bisa diandalkan.
Wajah, Bibir, dan Konteks
Deepfake menukar wajah, menyinkronkan bibir dengan suara lain, atau membuat video seutuhnya. Pemeriksaan tetap berlapis.
Tiga bentuk umum
- Tukar wajah: wajah seseorang ditempel ke video orang lain.
- Sinkron bibir: mulut diubah mengikuti audio baru.
- Buatan penuh: seluruh video dibuat dari teks atau gambar.
Yang bisa diperhatikan
- Tepi wajah, rambut, dan kacamata yang berkedip atau bergeser.
- Kedipan mata dan gerak rahang tidak natural.
- Bibir dan suara tidak selaras, napas tidak pas.
- Kualitas wajah berbeda dengan sisa bingkai.
- Gerak kepala saat menoleh ke samping.
Periksa di luar video
- Apakah tokoh itu hadir di acara tersebut? Cek jadwal, liputan lain, dan rilis resmi.
- Cari sumber primer: siaran asli, akun resmi.
- Hubungi juru bicara atau pihak terkait.
- Siapa yang diuntungkan jika video ini dipercaya?
Deepfake untuk penipuan
- Mengatasnamakan tokoh atau pejabat untuk menawarkan bantuan, investasi, atau hadiah.
- Disertai tautan atau nomor untuk "mendaftar".
- Pemeriksa fakta mencatat sebagian besar video hoaks bertema penipuan pada 2025 adalah deepfake (Mafindo).
Detektor Bukan Hakim
Alat deteksi AI berguna sebagai petunjuk awal. Tow Center (CJR, 2025) menyimpulkan alat ini belum bisa diandalkan menangkap konten AI secara konsisten.
- Gagal pada teknik baru yang tidak ada di data latihnya.
- Mudah dikelabui dengan penyesuaian kecil.
- Hasil berupa persentase ("70% manusia") tidak menjelaskan bagian mana yang diubah dan apakah maknanya berubah.
- Bisa salah dua arah: konten asli ditolak, palsu lolos.
- Satu lapis bukti, bukan putusan.
- Cari tahu data latih dan pembaruan alatnya.
- Eksperimen University of Mississippi (2024): jurnalis cenderung terlalu percaya pada detektor, terutama bila hasilnya sesuai dugaan mereka.
- Jangan menolak konten yang sah hanya karena skor, dan jangan menerima karena skor sesuai harapan.
Pada Januari 2024 klip audio yang belum terverifikasi memicu liputan luas sebelum kebenarannya jelas. Verifikasi harus sebelum konten diperkuat oleh pemberitaan.
Chatbot Itu Asisten, Bukan Sumber
Sebanyak 12% responden Indonesia memakai chatbot AI untuk berita (DNR 2026). Chatbot dapat terdengar yakin sekaligus keliru.
Kesalahan yang khas
- Halusinasi: menyebut fakta, angka, atau kutipan yang tidak ada.
- Tautan dan rujukan palsu: alamat yang terlihat meyakinkan tetapi tidak ada, atau bukan memuat klaim itu.
- Ringkasan keliru: menyimpulkan dokumen dengan mengubah maknanya.
- Data bocor: dokumen sensitif diunggah ke layanan publik.
Verifikasi keluaran AI
- Minta sumber, lalu buka sumber itu dan baca sendiri.
- Cek kutipan kata per kata ke dokumen asli.
- Cek angka ke data primer (BPS, putusan, laporan resmi).
- Cocokkan nama, gelar, dan tanggal dengan sumber lain.
- Catat alat yang dipakai dan bagian yang dibantu AI dalam log.
Yang sebaiknya jadi kebijakan
- AI boleh membantu riset, ringkasan, dan penyusunan awal, tetapi manusia yang bertanggung jawab atas isi.
- Jangan unggah dokumen rahasia atau identitas sumber ke layanan publik.
- Keluaran AI yang dipakai wajib diverifikasi sebelum terbit.
- Beri keterangan bila penggunaan AI signifikan (lihat Pedoman Dewan Pers).
Pesan yang Minta Disebarkan
WhatsApp dipakai 56% responden Indonesia sebagai sumber berita (DNR 2026). Pesan berantai punya pola yang bisa dikenali.
- Bernada mendesak: "sebarkan sebelum dihapus".
- Tanpa sumber, tanggal, atau nama yang bisa dicek.
- Memancing marah, takut, atau iba.
- Menyertakan tautan atau nomor yang meminta data atau uang.
- Label "diteruskan berkali-kali" pada pesan.
- Cari beberapa kata kunci pesan di mesin pencari dan situs cek fakta (misalnya Mafindo, Tempo, Kompas).
- Periksa langsung ke kanal resmi lembaga yang disebut.
- Pindai tautan sebelum membuka: periksa alamat domain.
- Jika menyangkut keselamatan, hubungi pihak berwenang.
Pesan berantai yang sudah viral layak diperiksa dan ditulis sebagai cek fakta, dengan gambar yang diberi tanda jelas agar tidak ikut menyebarkan klaim keliru.
Deepfake dan Teks ?
Pilih jawaban yang paling tepat.
Detektor menunjukkan "70% buatan manusia". Artinya...
Persentase tidak menjelaskan makna perubahan.
Rekaman suara terdengar persis seperti seorang pejabat. Langkah terbaik?
Suara mirip bukan bukti.
Chatbot memberi tautan sumber yang tampak meyakinkan. Langkah wajib berikutnya?
Tautan bisa palsu atau tidak memuat klaim itu.
Mengapa pesan berantai sulit diawasi?
Diverifikasi lewat kata kunci dan kanal resmi.
Deepfake tokoh menawarkan bantuan dengan tautan pendaftaran. Dugaan paling masuk akal?
Pola penipuan dengan deepfake sangat umum.
Alat, Etika, dan Aturan
Kotak perkakas verifikasi, Pedoman AI Dewan Pers, label penggunaan AI, dan cara mengoreksi.
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Banyak Alat, Satu Kebiasaan
Alat berganti, kebiasaannya sama: cocokkan lebih dari satu petunjuk dan simpan hasilnya.
| Kebutuhan | Contoh alat | Catatan |
|---|---|---|
| Cari gambar terbalik | Google Lens, TinEye, Bing, Yandex | Coba beberapa mesin; hasilnya berbeda |
| Periksa video | Ekstensi InVID-WeVerify | Mengambil bingkai kunci dan memperbesar detail |
| Lokasi | Google Earth, Maps, Street View | Cocokkan beberapa petunjuk, bukan satu |
| Waktu dan bayangan | SunCalc | Perkiraan jam dari arah matahari |
| Arsip halaman | Wayback Machine | Lihat versi lama dan halaman yang dihapus |
| Metadata | ExifTool atau penampil metadata | Sering kosong pada berkas dari aplikasi pesan |
| Watermark AI | SynthID Detector, pemeriksa gambar di Gemini | Hanya konten dari sistem yang didukung |
| Kredensial konten | Content Credentials Verify (C2PA) | Tidak ada kredensial bukan berarti palsu |
| Klaim yang sudah diperiksa | Mafindo (TurnBackHoax), Cek Fakta Tempo, kolaborasi CekFakta, AFP Fact Check | Verifikasi ulang bila bahan penting |
Jangan unggah materi sensitif atau identitas sumber ke layanan publik. Nama alat contoh saja; fitur dan ketersediaan berubah, jadi cek lagi.
Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025
Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik ditetapkan 24 Januari 2025. Ringkasan di sini berdasarkan pemberitaan; baca teks resminya.
Yang paling mendasar
- Kontrol manusia: karya berbasis AI tetap diawasi manusia dari awal sampai akhir.
- Verifikasi: data, gambar, suara, dan video hasil AI harus diperiksa keakuratan dan keabsahannya.
- Transparansi: keterangan yang jelas tentang penggunaan AI, terutama bila dampaknya signifikan.
Penggunaan yang dilarang
- Tanpa kontrol manusia.
- Melanggar Kode Etik Jurnalistik.
- Konten tidak terverifikasi.
- Melanggar hak cipta atau aturan terkait.
- Konten beritikad buruk atau tidak etis (cabul, bohong, fitnah, kekerasan sadis, diskriminasi).
- Avatar atau gambar yang menyerupai orang tertentu tanpa izin yang bersangkutan atau ahli warisnya.
- Sulih suara atau sintesis suara tanpa persetujuan pemilik suara.
- Penggunaan AI yang tidak transparan.
- Melanggar privasi atau hak asasi manusia.
Menjadi kebiasaan redaksi
- Siapa yang bertanggung jawab memeriksa keluaran AI? Tulis dalam alur kerja.
- Log penggunaan AI: alat, tugas, siapa yang memeriksa.
- Kebijakan label: kapan dan bagaimana pembaca diberi tahu.
- Izin tertulis untuk wajah dan suara yang ditiru.
- Larangan mengunggah materi sensitif ke layanan publik.
Yang perlu dicermati
- Ringkasan ini bukan nasihat hukum.
- Pasal dan ayat rinci ada di peraturannya; rujuk teks resmi di situs Dewan Pers.
- Aturan dan regulasi AI nasional masih berkembang. Pantau pembaruan.
Perlu Label atau Tidak?
Pilih perlakuan yang paling sesuai dengan prinsip transparansi dan batas izin dalam pedoman Dewan Pers. Enam kasus fiktif.
Ketika Kita yang Keliru
Kode Etik Jurnalistik Pasal 10: wartawan segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai permintaan maaf. Urutkan langkah koreksinya.
Etika dan Aturan ?
Pilih jawaban yang paling tepat.
Peraturan Dewan Pers mengenai AI dalam jurnalistik adalah...
Ditetapkan 24 Januari 2025.
Avatar AI menyerupai seseorang tanpa sepengetahuannya. Menurut pedoman...
Pasal 5 ayat 2 (menurut ringkasan).
Dalam sistem verifikasi berlapis, peran detektor AI adalah...
Detektor tidak bisa diandalkan sebagai penentu tunggal.
Setelah menemukan kekeliruan pada berita yang sudah tayang, langkah pertama?
Hentikan dulu, lalu koreksi terbuka.
Kalimat mana yang paling setia pada tingkat bukti bila lokasi sudah cocok tetapi waktu belum?
Tulis hanya apa yang terbukti.
Latihan dan Kasus
Belajar dari kasus nyata, lalu berlatih memutuskan, menilai, dan merancang tantangan proyek.
Disusun oleh Agung Hardiansyah
Kasus yang Menjadi Pelajaran
Empat peristiwa yang sering dipakai sebagai contoh. Perhatikan apa yang seharusnya diperiksa lebih dulu.
Gambar "ledakan" di dekat Pentagon
- Mei 2023: gambar asap hitam di dekat Pentagon beredar, dibagikan akun-akun yang tampak kredibel dan sempat dikutip sebagian kanal.
- Dinas pemadam setempat menyatakan tidak ada ledakan. Gambar itu hasil AI.
- Pelajaran: tanda centang akun bukan bukti, konfirmasi ke otoritas dulu.
Suara tiruan dalam panggilan otomatis
- Januari 2024: panggilan otomatis dengan suara tiruan AI yang menyerupai Presiden Joe Biden mengimbau pemilih tidak ikut pemilihan pendahuluan di New Hampshire.
- Regulator komunikasi AS kemudian menegaskan suara AI dalam robocall termasuk yang diatur larangan.
- Pelajaran: suara mirip bukan bukti; konfirmasi ke pihak yang bersangkutan.
Video call dengan "direktur keuangan" palsu
- Februari 2024: pegawai keuangan perusahaan di Hong Kong mentransfer sekitar HK$200 juta setelah rapat video dengan tampilan rekan, termasuk pimpinan, yang ternyata deepfake. Perusahaan Arup kemudian membenarkan sebagai korban.
- Pelajaran: verifikasi lewat kanal lain sebelum tindakan besar. Wajah dan suara di video tidak cukup.
Klip audio kepala sekolah
- Januari 2024: klip audio yang tampak memperlihatkan kepala sekolah di Maryland mengucapkan kalimat rasis memicu liputan luas dan reaksi publik.
- Polisi kemudian menuduh seorang pegawai sekolah sebagai pembuat klip tiruan itu.
- Pelajaran: amplifikasi sebelum verifikasi menimbulkan kerugian nyata (Tow Center, CJR).
Pola yang Sudah Ada di Sini
Pemerintah, komunitas cek fakta, dan Dewan Pers sudah bergerak. Redaksi perlu menyiapkan prosedurnya.
Deepfake tokoh untuk menawarkan bantuan
- Mafindo mencatat deepfake pertama muncul di Indonesia pada 2023 dan sebagian besar video hoaks bertema penipuan pada 2025 adalah deepfake.
- Sering mengatasnamakan pejabat atau tokoh, menawarkan bantuan atau hadiah dengan tautan pendaftaran.
- Pemeriksa fakta berulang kali membantah hoaks pendaftaran bantuan yang mencatut nama presiden.
Pemerintah dan komunitas
- Komdigi bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil seperti Mafindo mengembangkan alat deteksi deepfake berbasis AI (peluncuran awal Juni 2025).
- Komdigi mendorong platform global menyediakan fitur deteksi konten AI.
- Dewan Pers menetapkan Pedoman AI pada Januari 2025.
Yang perlu disiapkan
- Prosedur verifikasi tertulis dan siapa yang berwenang menunda tayang.
- Kontak cepat ke juru bicara, BPBD, kepolisian, dan lembaga resmi.
- Kebiasaan menulis cek fakta dengan pembanding yang jelas.
- Pelatihan berkala karena alat dan modus cepat berubah.
Tayangkan, Tahan, atau Bantah?
Putuskan nasib enam bahan. Fokus pada bukti yang ada, bukan pada seberapa menarik kontennya.
Delapan Ukuran, Skala Satu sampai Empat
Nilai lembar verifikasi satu konten, baik untuk diri sendiri, rekan, maupun fasilitator.
Verifikasi Satu Klaim Viral
Kelompok 3-4 orang memilih satu klaim viral fiktif atau yang diberikan fasilitator, lalu menyusun lembar verifikasi.
- Rumuskan klaim. Satu kalimat: apa yang diklaim, oleh siapa, kapan.
- Telusuri asal. Unggahan tertua, akun, dan versi lain.
- Cocokkan tanggal dan lokasi. Minimal dua petunjuk independen.
- Periksa kemungkinan rekayasa AI. Watermark, kredensial, tanda visual, konteks.
- Cari konfirmasi manusia. Siapa yang dihubungi dan apa jawabannya.
- Tentukan status dan tulis. Pilih status, tulis dua kalimat penjelasan dan satu kalimat keterangan metode.
Klaim, status, tiga bukti utama, satu batas yang belum terjawab, dan keputusan redaksi. Nilai dengan rubrik pada slide sebelumnya.
Sepuluh Hal yang Perlu Dibawa Pulang
Verifikasi adalah kebiasaan, bukan satu alat.
- Berhenti dulu. Rasa kaget bukan dasar menayangkan.
- Lima pilar. Asal, sumber, tanggal, lokasi, motif.
- Cari yang tertua. Unggahan pertama menjelaskan banyak hal.
- Petunjuk bukan bukti. Metadata, tanda visual, dan detektor hanya satu lapis.
- Beberapa petunjuk independen. Satu petunjuk bisa kebetulan.
- Hubungi manusia. Saksi, narasumber, dan otoritas.
- Tulis setia pada bukti. Terverifikasi, sebagian, belum, keliru.
- Tidak ada watermark bukan berarti asli.
- AI membantu, manusia bertanggung jawab. Beri label bila signifikan.
- Koreksi cepat dan terbuka. Dokumentasikan pelajarannya.
Daftar Pustaka
Rujukan resmi dan ilmiah yang mendasari modul ini. Periksa kembali tautan dan versi terbaru sebelum mengutip.
Regulasi dan pedoman
- Dewan Pers. (2025). Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik (ditetapkan 24 Januari 2025). Jakarta: Dewan Pers. Tersedia di laman Dewan Pers (dewanpers.or.id).
- Dewan Pers. (2006). Kode Etik Jurnalistik (disahkan melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 6/Peraturan-DP/V/2008). Jakarta: Dewan Pers.
- Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
- Republik Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
Buku dan artikel ilmiah
- Caulfield, M., & Wineburg, S. (2023). Verified: How to think straight, get duped less, and make better decisions about what to believe online. University of Chicago Press.
- Chesney, R., & Citron, D. (2019). Deep fakes: A looming challenge for privacy, democracy, and national security. California Law Review, 107(6), 1753-1819.
- Silverman, C. (Ed.). (2014). Verification handbook: A definitive guide to verifying digital content for emergency coverage. European Journalism Centre.
- Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making (Council of Europe Report DGI(2017)09). Council of Europe.
- Wineburg, S., & McGrew, S. (2019). Lateral reading and the nature of expertise: Reading less and learning more when evaluating digital information. Teachers College Record, 121(11), 1-40.
Laporan, data, dan analisis
- Reuters Institute for the Study of Journalism. (2026). Digital News Report 2026. University of Oxford. https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/digital-news-report/2026 (profil Indonesia: https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/digital-news-report/2026/indonesia). Diakses 21 Oktober 2026.
- Williams, K. (2025, 11 Maret). What journalists should know about deepfake detection in 2025: A nontechnical guide. Columbia Journalism Review (Tow Center). https://www.cjr.org/tow-center/what-journalists-should-know-about-deepfake-detection-technology-in-2025-a-non-technical-guide.php. Diakses 21 Oktober 2026.
Dokumentasi teknis dan panduan praktik
- Coalition for Content Provenance and Authenticity. (2026). C2PA specifications. https://spec.c2pa.org/specifications/specifications/2.3/index.html. Diakses 21 Oktober 2026.
- Kohli, P., & Richardson, L. (2025, 20 November). How we're bringing AI image verification to the Gemini app. Google. https://blog.google/innovation-and-ai/products/ai-image-verification-gemini-app/. Diakses 21 Oktober 2026.
- Bellingcat. (n.d.). Online investigation toolkit [Panduan dan daftar alat]. Bellingcat.
- Mafindo. (n.d.). TurnBackHoax [Basis data cek fakta]. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia. https://turnbackhoax.id
Contoh kasus dan angka dari pemberitaan (misalnya klaim kenaikan 550% deepfake) belum bisa diverifikasi dari data dasarnya, sehingga tidak dimasukkan sebagai rujukan utama. Ringkasan pedoman AI Dewan Pers disusun dari pemberitaan; baca teks resminya. Materi ini edukatif, bukan nasihat hukum.
THANK YOU
Butuh diskusi atau kolaborasi lebih lanjut? Silakan hubungi redaksi TILTUP.ID.
Disusun oleh Agung Hardiansyah