Infografis Data · Karhutla 2026

Ketika Titik Api Menyala, Napas Warga Ikut Terengah

Rekam jejak titik panas di seluruh Indonesia, memburuknya kualitas udara, dan lonjakan kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak, 18 Agustus–20 Oktober 2026, berdasarkan data Kementerian Kehutanan (SiPongi), Kementerian Lingkungan Hidup (ISPU), dan Kementerian Kesehatan.

Diperbarui 21 Oktober 2026 · Arahkan kursor ke angka dan grafik untuk melihat detail

Kasus ISPA di wilayah karhutla
314.124
Akumulasi per 20 Okt · 7 provinsi · 65 kab/kota
Titik panas 24 jam, tertinggi
24.952
Tercatat 8 Oktober (semua tingkat kepercayaan)
Balita (0–5 tahun) terdampak
70.890
22,6% dari seluruh kasus ISPA
Titik panas tingkat tinggi, 1–12 Okt
12.183
33 provinsi · rilis Kemenhut
01

Denyut Titik Panas Harian

Titik panas bukan jumlah kebakaran, melainkan titik koordinat bersuhu permukaan lebih tinggi yang ditangkap satelit. Angka harian naik-turun tajam karena tutupan awan, asap, dan jadwal lintasan satelit, jadi bacalah polanya, bukan satu hari saja.

Jumlah Titik Panas per 24 Jam

Seluruh Indonesia · Terra/Aqua, SNPP, NOAA · Sumber: SiPongi Kemenhut/KLHK via Databoks · garis putus-putus = rentang tanggal tanpa data terverifikasi
Puncak 24 jam
24.952
8 Oktober. Puncak sebelumnya 24.466 pada 30 Agustus.
Terendah dalam data
8.973
20 Oktober (data 21 Agu–20 Okt). Sebelumnya 9.330 pada 24 Agustus.
Tingkat tinggi tertinggi
2.368
30 Agustus · 9,7% dari 24.466 titik
Penurunan 19→20 Oktober
−11.419
20.392 menjadi 8.973; hanya 520 titik tingkat tinggi pada 20 Okt
Perlu Diingat. Mayoritas titik panas berstatus kepercayaan sedang (30–79). Angka resmi yang lazim dijadikan rujukan utama adalah tingkat tinggi (80–100), yang jauh lebih kecil. Angka harian di atas juga tidak boleh dijumlahkan menjadi total periode karena satu area yang sama bisa terdeteksi berhari-hari.
02

Ke Mana Titik Panas Berpindah

Pada Agustus, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mendominasi. Memasuki Oktober, Papua Selatan dan Sumatera Selatan ikut naik ke jajaran teratas. Pada 17–20 Oktober, Jawa Timur ikut masuk tujuh besar nasional (733, 780, dan 807 titik; lihat bagian Jawa). Pilih tanggal untuk melihat tujuh provinsi teratas pada hari itu.

Tujuh Provinsi Teratas per Tanggal Pantau

Hanya provinsi yang disebut dalam rilis harian; peringkat 8–10 tidak tersedia dalam teks sumber.

Jejak Tiga Provinsi Utama

Titik panas 24 jam pada tanggal yang provinsinya masuk daftar teratas. Titik kosong berarti provinsi tidak masuk daftar pada tanggal tersebut.
Kalteng, 21 Sep
12.046
Tertinggi untuk satu provinsi dalam data terkumpul
Papua Selatan, 8 Okt
6.437
Naik dari 1.472 titik pada 21 Agustus
Kalbar, 30 Agu
8.911
Menjadi 755 titik pada 8 Oktober
Sumsel, 16 Sep
3.929
Tertinggi untuk provinsi ini; 3.754 titik pada 7 Okt
03

Peta Sebaran Titik Api

Empat belas potret titik panas di provinsi-provinsi dengan hitungan tertinggi, dari akhir Agustus hingga 20 Oktober, dengan pantauan hampir harian sejak 8 Oktober untuk melihat perkembangan sebaran api dua minggu terakhir. Pilih tanggal untuk melihat api berkobar mengikuti jumlah titik panas yang tercatat di tiap provinsi.

Titik Panas 24 Jam per Provinsi

Satu api = sekitar 350 titik panas. Seluruh tingkat kepercayaan · SiPongi Kemenhut via Databoks

Geser peta ke kiri-kanan untuk melihat Kalimantan hingga Papua.

Batas provinsi🔥 Api = ±350 titik panasApi kecil redup = di luar 7 provinsi teratas nasional pada hari itu
Cara Membaca. Data titik panas hanya tersedia per provinsi, jadi posisi tiap api di dalam provinsi bersifat ilustrasi, bukan lokasi kebakaran sebenarnya. Jumlah api mengikuti jumlah titik panas pada tanggal tersebut.
04

Jembatan antara Api dan Napas: Kualitas Udara

Api di lahan gambut dan hutan melepas asap berisi partikel halus. Asap itu yang terhirup warga, bukan api. Karena itu kualitas udara ditaruh di antara titik panas dan kasus ISPA. Ukurannya adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup: 0–50 baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, di atas 300 berbahaya.

1
Sumber panas
24.952
titik panas dalam 24 jam, puncak 8 Oktober
2
Udara memburuk
4.055
ISPU tertinggi, Kalimantan Tengah, 13 Oktober (batas berbahaya: 300)
3
Kasus ISPA tercatat
314.124
kasus kumulatif di wilayah karhutla, per 20 Okt

ISPU Tertinggi per Provinsi, Pukul 18.00 WIB

Empat belas potret dari 30 Agustus hingga 20 Oktober · angka tertinggi provinsi dari 72 stasiun pemantau · Sumber: ISPU KLHK via Databoks · arahkan kursor atau ketuk sel untuk detail
Tanda "<" berarti provinsi tidak masuk 10 provinsi terburuk pada potret itu, sehingga nilainya lebih rendah dari peringkat ke-10 hari tersebut. Nilai di atas 500 jauh melampaui ambang berbahaya dan sebaiknya dibaca sebagai "sangat ekstrem", bukan angka yang dibandingkan secara linear.

Kalimantan Tengah: Titik Panas dan ISPU pada Tanggal yang Sama

Hanya tanggal dengan kedua data tersedia · skala bar dihitung terpisah untuk tiap ukuran
Cara Membaca. Pola harian tidak berjalan satu-satu. Pada 12 Oktober titik panas Kalimantan Tengah mencapai 7.069 tetapi ISPU 1.676, sedangkan 13 Oktober titik panas turun ke 2.084 sementara ISPU melonjak ke 4.055. Asap bisa bertahan, terbawa angin, dan berasal dari gambut yang membara tanpa terdeteksi satelit pada hari itu. Pekan berikutnya polanya mirip: titik panas Kalimantan Tengah berayun dari 2.745 (17 Okt) ke 8.338 (18 Okt) lalu 1.221 (20 Okt), sementara ISPU pukul 18.00 nyaris datar di 1.277–1.291. Beberapa pasang data belum cukup untuk menyimpulkan jeda waktu, apalagi hubungan statistik. Yang bisa dikatakan: provinsi dengan titik panas terbanyak juga yang udaranya paling sering berstatus berbahaya.
Dari udara ke paru-paru. Kementerian Kesehatan menyebut sesak napas dan batuk sebagai keluhan utama warga di wilayah berasap (22 September), dan KLH meminta warga menghindari aktivitas di luar ruangan saat ISPU berstatus berbahaya. Kasus ISPA pada bagian berikut tercatat di wilayah yang udaranya tercemar asap. Namun ISPA juga bisa disebabkan virus, bakteri, dan musim, dan laporan Kemenkes tidak memisahkan penyebab tiap kasus. Karena itu keterkaitannya dibaca sebagai bukti pendukung yang kuat, bukan bukti sebab-akibat per kasus.
05

Dampak ke Pernapasan: Kasus ISPA

Udara yang memburuk berujung pada napas warga. Kementerian Kesehatan mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota terdampak karhutla. Kelompok usia dibagi dua: balita (0–5 tahun) dan di atas 5 tahun.

Pertumbuhan Kasus Kumulatif

Arahkan kursor ke kolom · biru = balita, perak = di atas 5 tahun
Balita (0–5 th)Di atas 5 tahun

Komposisi Usia, per 20 Oktober

Arahkan kursor ke bagian cincin
Balita 70.890>5 th 243.234

Kasus ISPA per Wilayah

Kemenkes merinci enam provinsi; provinsi ketujuh tidak disebut dalam laporan yang ditemukan, sehingga angkanya turunan (314.124 dikurangi jumlah enam provinsi).
Selisih 13→20 Okt
+30.854
283.270 (13 Okt) menjadi 314.124 (20 Okt)
Tambahan pelaporan 20 Okt
+3.269
Tambahan 2.808 (16 Okt) dan 2.778 (17 Okt) dilaporkan pada hari lain
Udara kategori berbahaya
12kab/kota
Per 13 Okt; 6 di antaranya di Kalimantan Tengah
Lahan ditangani (6 prov. prioritas)
1.024ha
BNPB per 19 Okt: 454 ha padam, 570 ha belum. Luas penanganan, bukan total lahan terbakar
Bukan Bukti Sebab-Akibat. Angka ISPA adalah laporan kasus di wilayah terdampak karhutla, tanpa pembanding rata-rata normal. ISPA bisa dipicu banyak hal, dan sebagian wilayah (misalnya Kalimantan Utara) mencatat kenaikan kasus dengan titik api yang sangat sedikit. Kemenkes menyebut partikel PM2.5 dalam asap sebagai faktor risiko.
06

Karhutla di Pulau Jawa

Karhutla bukan hanya urusan Sumatra dan Kalimantan. Sejak pertengahan Oktober, api juga menyala di lereng gunung Jawa Timur, Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta lahan-lahan di Jawa Barat. Skalanya jauh lebih kecil dari Kalimantan Tengah, tetapi korbannya nyata. Angka di bagian ini berasal dari BPBD dan media, bersifat sementara, dan belum ada rekap nasional gabungan.

Titik panas Jawa Timur, 20 Okt
807
Peringkat 4 nasional; 733 (17 Okt) dan 780 (19 Okt)
Bromo (TNBTS) terbakar
75,37ha
BPBD Jatim; api dilaporkan padam per 21 Okt, asap masih ada
Gunung Lawu, sementara
±490ha
BPBD Karanganyar, 20 Okt; 36 titik panas, jalur pendakian ditutup
Jawa Barat, kumulatif 2026
1.083ha
526 kejadian di 23 kab/kota (1.082,76 ha), BPBD Jabar 20 Okt

Titik Panas Jawa Timur per 24 Jam

Hanya tanggal ketika Jawa Timur masuk tujuh besar nasional dalam rilis harian · SiPongi via Databoks
17 Okt
733
19 Okt
780
20 Okt
807
Pada 20 Oktober, Jawa Timur (807) berada di atas Papua Selatan (729) dan di bawah Kalimantan Selatan (837). Titik panas bukan jumlah kebakaran, dan sebagian bisa berasal dari savana atau lahan pertanian.

Peta Kejadian Menurut Wilayah

Status per 19–21 Oktober 2026 · luas dan titik bersifat sementara dan berbeda tanggal antarsumber
WilayahKondisiCatatan
Bromo Tengger Semeru
Jawa Timur
75,37 ha terbakar. Api mulai 15 Okt di Bukit Kembang.Titik api dilaporkan padam per 21 Okt; asap masih terlihat di Penanjakan. Korban jiwa terjadi saat pemadaman (lihat catatan).
Arjuno-Welirang / Tahura R. Soerjo
Pasuruan, meluas ke Malang dan Batu
Terbakar sejak 16 Okt. Titik panas dilaporkan 57 hingga lebih dari 100 tergantung sumber dan hari.493 personel dikerahkan. Gubernur Jawa Timur menerbitkan surat edaran salat istisqa. Luas belum dirilis.
Sigiran
Mojokerto
Terbakar sejak 13 Okt.Medan terjal; luasnya belum dihitung.
Argopuro
Situbondo, meluas ke Probolinggo dan Jember
Terbakar sejak 15 Okt.Dipantau dari jarak jauh; belum ada angka luas.
Gunung Lawu
Karanganyar (Jateng) dan Magetan (Jatim)
Sekitar 490 ha (sementara); sebelumnya BPBD Jateng menyebut sekitar 230 ha.36 titik panas (SiPongi). Pengeboman air sejak 19 Okt; jalur pendakian ditutup.
Jawa Barat
23 kab/kota, 185 kecamatan, 357 desa/kelurahan
526 kejadian, 1.082,76 ha sepanjang 2026 (kumulatif).Terbesar: Subang 355 ha (119 kejadian), Sumedang 141,56 ha, Ciamis 94,08 ha, Garut 90,85 ha. Bukan angka kebakaran aktif.
Korban dan Selisih Laporan. Jumlah korban meninggal dalam kebakaran Bromo dilaporkan berbeda: empat orang (CNN Indonesia, Mongabay) hingga lima orang (Liputan6, 21 Okt), dengan satu hingga dua orang luka berat. Angka ISPA Kemenkes di bagian sebelumnya hanya mencakup tujuh provinsi di Sumatra dan Kalimantan; kami tidak menemukan data ISPA karhutla untuk Pulau Jawa. Angka WALHI soal luas kebakaran Jawa Timur tidak dapat diverifikasi dan tidak dipakai.
Sumber bagian ini. RCNN Indonesia 15 Okt · CNN Indonesia 17 Okt · Mongabay 18 Okt · Metro TV · Kompas.id · Disway · MCI News 21 Okt. Juga Liputan6 dan JawaPos (BPBD Jatim), Radar Bromo, Radar TV, informasi.com dan beritajateng.tv (Lawu), serta ANTARA (BPBD Jabar, 20 Okt). Titik panas Jawa Timur: Databoks 17, 19, dan 20 Okt.
07

Metodologi dan Keterbatasan

Bagaimana Data Diverifikasi
Setiap angka dibandingkan dengan sumber aslinya (halaman Kemenkes, Databoks yang mengutip SiPongi, dan laporan media yang mengutip pejabat). Rincian tingkat kepercayaan dijumlahkan ulang: seluruh 14 rilis harian sebelum 14 Oktober yang memuat rincian cocok dengan total nasional, sedangkan untuk rilis 14–20 Oktober total nasional dan jumlah tingkat tinggi dicatat langsung dari halaman Databoks. Total ISPA terbaru tersusun dari 70.890 + 243.234 = 314.124, dan konsisten di tiga media berbeda (CNA, kumparan, IDN Times).
Keterbatasan Data Titik Panas
Data harian berasal dari tangkapan 24 jam yang dipublikasikan sekitar pukul 11.15–11.37 WIB. Data 18–20 Agustus, 31 Agustus–15 September (kecuali 16 Sep), serta beberapa hari lain tidak berhasil dikonfirmasi dan sengaja tidak diisi. Rilis Databoks untuk 21 Oktober belum tersedia saat edisi ini disusun, dan 16 Oktober hanya memuat total tanpa rincian provinsi dalam teks sumber. Tidak ada angka kumulatif resmi untuk periode 18 Agustus–20 Oktober yang ditemukan; angka 12.183 titik tingkat tinggi hanya mencakup 1–12 Oktober.
Mengapa Angka Tingkat Tinggi Berbeda-beda
Ada dua ukuran yang tidak boleh dicampur. Grafik di atas memakai tangkapan 24 jam yang dipublikasikan Databoks, yang memuat semua tingkat kepercayaan dan memisahkan jumlah tingkat tinggi (1.379 pada 19 Oktober). Kementerian Kehutanan juga merilis angka tingkat tinggi harian pukul 21.00 WIB, hanya untuk nasional dan enam provinsi prioritas (misalnya 487 pada 19 Oktober, turun 617 dari 1.104 sehari sebelumnya; enam provinsi prioritas 172, dari 748). Jam hitung dan cakupan berbeda, jadi kedua angka tidak bisa dibandingkan langsung.
Keterbatasan Data ISPA
Kemenkes tidak selalu menyebut tanggal mulai rangkaian data. Titik data 18 Agustus–13 Oktober (283.270) tercantum jelas, sedangkan seri lama dengan tanggal mulai berbeda (misalnya 13.449 per 27 Agustus) tidak digabung ke grafik. Kasus ISPA Kalimantan Barat "151 ribu" yang dikutip pada Agustus terhitung sejak Januari, jadi di luar periode ini. Total 277.075 pada 11 Oktober juga sempat tertulis "6 wilayah" di salah satu media. Laporan terbaru (20 Oktober) menyebut periode 20 Agustus–20 Oktober dan 65 kabupaten/kota, sedangkan rilis sebelumnya memakai awal 18 Agustus dan 63 kabupaten/kota; selisih definisi ini mungkin ikut memengaruhi kenaikan. Satu media melaporkan 311.363 kasus per 17 Oktober, lebih tinggi dari 306.309 per 18 Oktober di media lain, dan satu media mengutip 277.075 sebagai angka 14 Oktober. Ketiganya bertentangan dengan rangkaian lain sehingga tidak dimasukkan ke grafik. Provinsi ketujuh pada rincian 20 Oktober tidak disebut; angkanya (6.506) dihitung sebagai sisa.
Tentang Data Kualitas Udara
Angka ISPU diambil dari rekap Databoks yang mengutip halaman ISPU Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pukul 18.00 WIB pada 14 tanggal. Tiap angka adalah nilai tertinggi provinsi dari 72 stasiun dan hanya 10 provinsi terburuk yang dimuat. Provinsi yang tidak tercantum ditandai "<" dengan batas peringkat ke-10 pada hari itu. Satu potret per hari tidak menggambarkan rata-rata harian, sehingga kualitas udara pada jam lain bisa lebih baik atau lebih buruk. Nilai IQAir (skala AQI) yang dikutip media tidak sama dengan ISPU dan tidak dicampur di sini. Pada 9 September, rekap memuat Sumatera Selatan dua kali dengan angka berbeda (186 dan 140); yang dipakai nilai yang lebih tinggi. Pembacaan pagi (pukul 08.00) yang dikutip media, termasuk 4.106 di Kalimantan Tengah pada 18 Oktober yang tampak tidak wajar, tidak dipakai. Rekap 14, 15, 16, dan 19 Oktober pukul 18.00 tidak ditemukan. Hubungan titik panas, udara, dan ISPA ditampilkan berdampingan, bukan sebagai analisis statistik.
Tentang Peta Sebaran
Peta memakai data titik panas per provinsi (hanya tujuh provinsi teratas nasional yang disebut dalam rilis harian). Peta menampilkan tujuh provinsi di Sumatra dan Kalimantan secara tetap, ditambah provinsi Papua, Maluku, dan Sulawesi Selatan pada tanggal ketika provinsi itu masuk daftar tujuh teratas. Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Lampung, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur sempat masuk daftar (maksimal 807 titik) dan tidak digambar; Jawa Timur dibahas di bagian tersendiri. Provinsi Sumatra dan Kalimantan yang tidak masuk daftar ditandai "<" dengan batas atas berupa angka peringkat ke-7 pada hari itu. Posisi api di dalam provinsi bersifat ilustrasi karena koordinat titik panas tidak digunakan. Tanggal 14 September digantikan 12 September karena rilis tanggal 14 belum ditemukan. Rilis provinsi untuk 9 Oktober belum ditemukan sehingga tanggal tersebut tidak ditampilkan. Batas provinsi: Badan Informasi Geospasial (BIG), disederhanakan untuk tampilan.
Catatan Selisih Angka
Kalimantan Selatan tercatat 74.636 oleh Kemenkes per 13 Oktober, sementara satu media memuat 73.392 yang kemungkinan berasal dari waktu pemutakhiran berbeda. Rincian lima provinsi lainnya belum dirilis lengkap pada 13 Oktober; pada 20 Oktober Kemenkes menyebut enam provinsi. Edisi sebelumnya memuat kartu "lahan terbakar 129.900 ha" (BNPB, 6 provinsi prioritas). Setelah dicek ulang, angka BNPB yang sejenis (129.502) ternyata merujuk pada titik panas Kalimantan Tengah sepanjang 2026 (sekitar 27% dari 477.066 titik nasional), bukan hektare, sehingga kartu itu diganti dengan luas penanganan BNPB per 19 Oktober (1.024,33 ha target, 454,25 ha padam, 570,08 ha belum padam di enam provinsi prioritas), yang juga bukan total lahan terbakar.
08

Sumber Data

Psitus instansi   Ddata instansi yang dipublikasikan pihak ketiga   Rpernyataan instansi yang dikutip media

DataSumber
Titik panas harian nasional (SiPongi)DDataboks 21 Agu · 24 Agu · 30 Agu · 16 Sep · 21 Sep · 24 Sep · 26 Sep · 2 Okt · 3 Okt · 7 Okt · 8 Okt · 10 Okt · 13 Okt · 14 Okt · 15 Okt · 16 Okt · 17 Okt · 18 Okt · 19 Okt · rekap Databoks 20 Okt (tautan belum tercatat). Judul tanggal lain (27, 30 Agu; 20 Sep; 1, 4, 6, 11, 12 Okt) hanya total, dari judul rilis Databoks.
Titik panas tingkat tinggi 1–12 Okt (12.183)RRilis Kemenhut dikutip media
ISPA 18 Agu–13 Okt (283.270; 63.711 balita)RCNN Indonesia · CNBC Indonesia · iNews · JawaPos
ISPA 20 Okt (314.124; 70.890 balita; rincian provinsi)RCNA Indonesia · kumparan · IDN Times · Media Indonesia. ISPA 18 Okt (306.309): detik, viva, tirto. ISPA 17 Okt (311.363): Metro TV (tidak dipakai)
ISPA 21 Sep (174.694; 40.363 balita)RMerahputih
Rilis Kemenkes 21 Agustus (314 nakes, >3 juta warga terpapar)Pkemkes.go.id
Batas 38 provinsi untuk petaDBadan Informasi Geospasial (BIG) via repositori GeoJSON-Indonesia-38-Provinsi (GitHub)
Kualitas udara (ISPU) per provinsi, pukul 18.00 WIBD30 Agu · 9 Sep · 1 Okt · 3 Okt · 5 Okt · 6 Okt · 7 Okt · 9 Okt · 10 Okt · 12 Okt · 13 Okt · 20 Okt · rekap 17 dan 18 Okt (Databoks; tautan belum tercatat) (ISPU KLHK via Databoks)
ISPU stasiun Palangka Raya, 13 OktRdetikKalimantan (data ISPU Kemen LH)
Keluhan kesehatan akibat asap, 22 SepPKemenlh
Titik panas per provinsi 12 Sep, 30 Sep, 8 & 10 Okt (11–12 Okt: Databoks, rilis harian)DDataboks 12 Sep · 30 Sep · 8 Okt · 10 Okt
Luas penanganan 6 provinsi prioritas (1.024,33 ha; per 19 Okt)RBNPB, dikutip ANTARA 20 Okt
Titik panas Kalimantan Tengah sepanjang 2026 (129.502; 27% dari 477.066 nasional)RBerita Sampit (Kepala BNPB, 19 Okt)
Titik panas tingkat tinggi harian pukul 21.00 WIB (nasional dan 6 provinsi prioritas)RRilis harian Kementerian Kehutanan, dikutip media (4–19 Okt)
Karhutla Pulau Jawa (lihat bagian Jawa)RLihat tabel sumber di bagian 06